film izlefilm izle

BLESSING IN DISGUISE-CHEZ MAGGIE-MORONDAVA-MADAGASCAR

Tujuan utama kami ke Madagaskar adalah untuk melihat TSINGY di BEMARAHA National Park yang dilindungi oleh Unesco sebagai World Heritage sejak 1990. Hutan batu bagaikan jarum yang runcing mencuat keatas, sangat memukau dan menakjubkan dan juga perlu nyali besar untuk mencapainya. Tak semua orang mau dan sanggup melakukannya, kecuali orang nekad dan berjiwa petualang. Hahaha….kami termasuk jenis ini rupanya. TSINGY lah yang membawa kami ke pulau di timur Afrika ini. Banyak pula pelancong yang menghabiskan waktunya berminggu minggu untuk mengelilingi seluruh Madagaskar yang konon sangat indah menurut mereka.

Untuk mencapai TSINGY kami harus terbang dari Antananarivo, ibukota Madagaskar ke kota Morondava pagi pagi sekali. Dari Morondava petualangan pun dimulai. Dengan menggunakan Jeep 4 WD kami menuju ke Bepopaka dan menginap disini kemudian keesokan paginya baru melihat Tsingy. Perjalanan 9 jam dengan mobil jeep melewati jalan tanah yang naik turun, goyang sini – goyang sana, semestinya membuat orang jadi tidak nyaman atau mabuk, tetapi herannya malah membuat kami senang, walaupun andrenalin turun naik. Tanpa terasa perjalanan seharian pun dilewati dan tiba di hotel untuk menginap. Kejutan kembali menghentak kami, karena ternyata makanan yang disajikan hotel ini sangat enak, ikan dan udang segar semua diperoleh dari sungai yang berada di desa ini. Ketika waktunya tiba untuk meninggalkan desa ini, kami merasa berat juga karena teringat pada makanannya. Dimana lagi kami akan menikmati kuliner yang bikin orang kangen ini?
Kembali kami menuju ke Morondava. Herannya dalam setiap perjalanan pulang dimana saja waktu terasa lebih cepat dari perginya, walaupun jarak dan waktu tempuhnya sama. Tidak percaya? Coba deh anda perhatikan kapan-kapan yah! Jadi sebentar saja rasanya kami pun tiba di Hotel Chez Maggie yang konon adalah Hotel terbaik dan memperoleh Trip Advisor Award 2013, di Morondava sebuah kota kecil di tepi Samudera Hindia. Kami hanya akan menginap semalam disini dan besok langsung terbang ke Antananarivo kembali.

Yah….begitulah, saya tidak punya rencana apa-apa disini, Cuma untuk persinggahan saja.
Tetapi sesuatu yang tidak disangka terjadi! Sewaktu lagi enak-enaknya menikmati makan pagi, seorang pegawai hotel menghampiri dan dengan hati-hati serta perlahan berkata….”Tuan…” berhenti sebentar…..hati saya sudah tidak enak, ada apa ini? Apakah terjadi sesuatu? Lalu dia lanjutkan bahwa semalam dia menerima telpon dari Penerbangan yang akan kami tumpangi hari ini bahwa penerbangan ke Antananarivo ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Wah !!! kami serentak berteriak! Bagaimana ini? Ternyata bukan hanya kami tetapi sepasang Turis Jerman juga bernasib sama. Kami terus berkomunikasi dengan telpon, tidak puas kami pun ke Bandara dan anehnya Taxi yang mengantar kami bukannya pulang, malah menunggu. Kami dan banyak penumpang meminta kepastian dari Pihak Maskapai, kapan bisa berangkat? Maunya kami sore ini. Tapi tetap saja tidak ada jawaban pasti, mereka menganjurkan kami untuk kembali ke hotel dan semua biaya akomodasi dan konsumsi mereka yang tanggung dengan memberikan voucher . Apa daya lagi…..dengan lesu kami pun menggeret koper mencari taxi untuk kembali ke hotel. Sopir taxi tadi menghampiri dengan senyum penuh arti, ah….. ternyata dia sudah paham dengan lagunya Penerbangan Domestik disini dan yakin bahwa kami akan balik lagi ke hotel sehingga dia terus menungggu.

Akhirnya kami kembali ke hotel Chez Maggie. Kami mendapat kamar baru yang aduhai saya suka sekali, bergaya Santorini di Yunani yang belum sempat saya kunjungi hingga kini. Lumayanlah saya merasakannya disini seakan berada disana. Kami berkumpul di Restoran yang bagaikan tempat kumpul-kumpul para penghuni hotel karena disini WIFI nya lebih kencang, sehingga kami pun dapat mengikuti berita dunia terkini. Sementara kami juga terus menunggu berita dari pihak penerbangan. Kalau bosan, bisa berenang di kolam renang atau di laut lepas di depan hotel.
Bisa pula jalan-jalan di pasir yang halus bagaikan bedak bayi sehingga nyaman diinjak. Warnanya coklat, unik yah…pasir kan biasanya berwarna putih. Bercampur Kristal, sehingga bila terkena sinar matahari…..bling…bling bagaikan permata, keren kan. Mau melihat matahari terbit dan terbenam, pilih saja…..mau berdiri di bibir pantai, atau duduk di dekat hotel. Wah…benar-benar liburan yang menyenangkan.
Sa’at makan siang, saya memilih ikan goreng dan ayam. Wah… inilah salah satu ikan goreng terenak yang pernah saya temui, tidak kalah dengan yang di desa Bepopaka. Maklum negeri bekas jajahan Perancis ini ternyata mewarisi cita rasa Kuliner Perancis yang sudah sangat terkenal di dunia. Ayam kuah jahenya yang hangat sungguh menyegarkan, saking enaknya waktu makan malam saya pesan lagi. Hehehe……. Ada juga Coconut Chicken yang ternyata adalah Opor Ayam. Jangan heran kalau ada makanan yang serupa dengan Indonesia, bukankah nenek moyang mereka banyak yang berasal dari Indonesia?

Bagi yang doyan seafood, disinilah tempatnya. Madagaskar terkenal dengan udang dan lobsternya yang besar, segar dan murah, maklum ini kan negeri pulau. Demikian pula dengan di Chez Maggie, satu piring diisi dengan 6 ekor udang besar-besar…. wanginya….wow……sedap! Apalagi harganya jauh sekali dibawah harga di Jakarta. Ketika saya tanyakan ke Mr. Gary, dimana mereka memperoleh seafood segar ini? Dia Cuma menunjuk ke depan resto…..yah di laut luas depan hotel. Pantas…..
Selain makanan yang enak dan fasilitas lengkap, ternyata mereka juga menyewakan JEEP 4 WD kemana saja, termasuk ke TSINGY. Ah…..andaikan kami tahu lebih dulu.

Mr. Gary adalah seorang yang ramah dan perhatian terhadap tamu-tamunya. Dia selalu mendatangi meja tamunya sekedar menyapa. Dialah Pemilik hotel ini. Berasal dari Amerika dan menikah dengan wanita Madagaskar serta sangat mencintai keduanya. Saya sangat tahu kenapa Gary rela tinggal di tempat yang jauh dari keramaian ini, karena saya pun perlahan-lahan mulai jatuh cinta kepada Morondava, kota pantai yang indah dan damai ini.
Ah…..betapa beruntungnya anda Mr. Gary….dan kami juga tak kalah beruntungnya dapat singgah lebih lama di nirwana kecil mu…..semua gara-gara penerbangan yang batal. Blessing in disguise. Sebuah liburan manis yang tak kan terlupakan. Salam dari Indonesia…..yang juga punya banyak pantai indah.

Comments

NONTON RUNNING MAN DARI KOREA, RASANYA WOW!

Dua minggu sebelum kedatangan Running Man ke Jakarta, seorang gadis memberitahu saya  bahwa Ji Hyo  salah seorang Bintang Papan Atas Korea yang Dramanya Emergency Couple dan sedang Populer akan ikut dalam rombongan dan gadis ini  berencana menonton.   Terus terang….saya tidak terkesan sama sekali dengan berita ini, karena memang tidak pernah nonton Shownya, jadi tidak tahu apa sih Running Man?  Hanya tahu kalau anak saya Timmy ketawa ngakak-ngakak,  berarti dia sedang nonton Running Man!

Ketika hari H nya tiba, Timmy mengajak saya ikut.  Saya langsung mengiyakan…karena kepingin tahu juga bagaimana rasanya nonton di Stadion Gelora Senayan yang biasanya digunakan untuk Pertandingan Sepak Bola dengan pengunjung yang membludak dan tidak jarang berakhir dengan kerusuhan.   Jadi saya pun  mempersiapkan diri dengan  membawa barang sesedikit mungkin dan memakai sepatu yang nyaman, dengan catatan kalau ada kerusuhan ……gampang lari!  Belum-belum sudah heboh.  He he he…

Dari jalan raya kami memasuki kompleks Gelora Senayan, terlihat banyak anak muda yang jalan tergesa-gesa mengikuti irama Mars yang terdengar samar-samar.  Banyak dari antara mereka memakai kostum yang bertuliskan huruf Korea yang entah apa artinya.  Jadilah kami mengikuti rombongan ini karena yakin tujuan mereka sama dengan  kami.  Tiba-tiba mereka berhenti persis di depan pagar tinggi, dan merunduk untuk meloloskan diri  melalui celah yang lebarnya hanya se penggaris ukuran 30 cm hasil dari dua jeruji  pagar yang dipatahkan.

Aduh…… bagaimana dengan saya?  Sementara masih bimbang dan ragu, tiba-tiba sudah giliran saya untuk masuk ke celah itu,  apalagi musik semakin berdentam-dentum kencang seakan menyuruh saya segera masuk, dan orang dibelakang sudah tak sabar menanti giliran.  Dengan berat hati, terpaksalah saya merunduk masuk ke celah itu dibawah tatapan mata anak-anak muda yang keheranan.  Wah……sulit  sekali meloloskan badan ini, hampir saja menyerah!  Tapi dengan susah payah akhirnya lolos juga.  Hahaha…

Ternyata bukan sekali itu saja kami melewati jalan pintas,  di depan lagi-lagi  saya harus menahan nafas dan mengempiskan perut melewati gerbang  yang digembok dengan rantai, tapi rantainya dilonggarkan dan masuk dengan memiringkan badan.  Saya sampai terheran-heran, kenapa harus seperti penonton ilegal……pada hal kami mempunyai tiket masuk dan gerbang resmi  terbuka lebar tanpa ada yang lewat.  Jadi  ingat ungkapan “Don’t follow me….I am lost too”.  Begitulah nasibnya kalau ikut-ikutan orang lain.

Sekarang kami sudah memasuki Stadion yang ramai, yah manusia ….yah musiknya!  Membuat hati tambah berdebar, Timmy dan temannya mudah saja melangkah dari satu bangku ke bangku lain, tinggal saya yang harus merangkak bagaikan bayi 7 bulan.  Saya memilih duduk di pinggir biar banyak anginnya.  Saya  mengamati keadaan sekitar yang dipenuhi oleh orang muda dan anak-anak beserta orang tua mereka yang mengantar.  Banyak juga warga negeri Ginseng   diantara penonton.

Tiba-tiba saya dikagetkan dengan teriakan histeris, lho …kok belum main sudah teriak-teriak?  Seorang ibu di depan saya yang mengantar anaknya yang masih kecil  memberitahu bahwa penonton berteriak bila wajah idolanya di sorot dan ditampilkan di layar lebar, sehingga mereka dapat melihatnya dengan jelas dan menimbulkan eforia.  Saya baru tahu, ternyata Running Man adalah sebuah Program Televisi Korea yang terdiri dari Artis, Komedian, Penyanyi, dan penonton hafal semua nama mereka.  Jadi ketika wajah sang Idola muncul, mereka meneriakkan namanya dengan histeris  bagaikan orang menang lotre.

Tak lama kemudian acara  benar-benar dimulai dengan Marching Band dan Penyalaan Obor serta defile peserta pertandingan.  Pertandingan Sepak Bola Persahabatan  antara Running Man dari Korea vs Indonesian All Stars, yang saya kenal namanya hanya Judika dan Rico Ceper.  Suasana makin heboh, tidak kalah serunya dengan Piala Dunia yang sedang berlangsung di Brazil.  Mungkin karena itu dua pasukan Polisi berkeliling lapangan dan akhirnya berdiri berjaga di setiap sisi lapangan.  Sepanjang pertandingan polisi berdiri tegap membelakangi  lapangan dan menghadap penonton.

Sementara orang-orang sibuk memandang ke lapangan mengikuti kemana larinya satu bola yang dikejar banyak orang, saya lebih sibuk memperhatikan sekitar.  Tepat diseberang kami  adalah bangku VIP yang harganya hemmm…. lebih sopan untuk tidak disebutkan.  Membuat saya berpikir apa sih keistimewaannya?  Ternyata persis di depan mereka adalah bangku tempat duduknya para Idola yang tidak ikut terjun ke lapangan alias cadangan,  jumlahnya  lumayan banyak ditambah  artis perempuan yang hanya  bertugas  loncat-loncat sebagai penggembira memeriahkan suasana.  Penggemar alias Fans yang kebanyakan gadis-gadis belia dapat memuaskan  hatinya walau hanya memandang bokong sang idola dari belakang saja,  syukur-syukur kalau idolanya memandang ke belakang.

Baru kali ini saya melihat pertandingan yang lucu!  Kalau Tim Korea goal…..semua berteriak histeris dan melambaikan stik balon warna kuning, demikian pula kalau Tim Indonesia memasukkan goal, hal yang sama terjadi.  Jadi….sebenarnya yang dibela itu tim yang mana?

Kalau penonton sedang senang hati mereka meneriakkan nama sang Idola….lalu tanpa aba-aba diikuti oleh penonton lain sambil melambaikan stik balon kuning,  dan herannya mereka bisa melakukannya seperti ada yang mengatur, sehingga dari jauh lambaian stik kuning yang bergoyang ke kiri dan ke kanan terlihat bagaikan padi yang menguning bergoyang ditiup angin.  Unik dan indah dipandang….. keren juga tuh!

Seperti pertandingan Sepak Bola yang serius, ada juga waktu jedanya.  Disinilah Judika tampil sebagai Penyanyi mengalunkan suara merdunya setelah sebelumnya turut main memperkuat Tim Indonesian All Stars.

Terus terang…… sejak dari awal menuju ke Stadion Gelora Bung Karno di Senayan ini, lebih banyak serunya memandang kelakuan orang dari mulai masuk hingga di dalam stadion.  Kalau orang-orang memandang ke lapangan dan serius mengikutinya, apalagi Timmy sampai berdiri memukul stik balon kuning,  saya justru lebih banyak memandang mereka.  Mereka begitu hafal  dan cinta pada  Idolanya dan tingkahnya lucu!

Tanpa disadari hari semakin gelap, dari tempat saya duduk dapat memandang gedung tinggi dan modern  yang lampunya mulai menerangi langit Jakarta melalui  bagian tengah stadion yang tidak beratap.  Pemandangan yang indah sekali.  Tapi kami tidak berlama-lama memandangnya, karena kami memilih  keluar lebih dulu sebelum ribuan orang keluar serentak.

Kembali kami menapaki jalan pintas yang sempit tadi, karena hanya itu yang kami tahu.  Untung bulan  dan bintang bersinar terang membantu kami melihat, kalau-kalau ada binatang melata yang suka keluar malam, maklum namanya juga jalan pintas,  masih banyak pohon dan rumput tanpa penerangan yang memadai.   Dengan hati berdebar….. akhirnya kami sampai juga dengan selamat di jalan raya yang terang benderang.

Kalau ada yang tanya bagaimana rasanya nonton Running Man di Gelora Senayan?  Saya akan menjawabnya dengan tegas:  RASANYA…..WOW!!!

Gerbang utama terbuka lebar dan lengang….sedikit yg lewat disini.

 

Fans kecil diantar orang tuanya.

 

Penonton yg serius menyaksikan idolanya bertanding.

 

Running Man dari Korea

 

Melewati celah selebar penggaris 30 cm, hasil dari 2 tiang pagar yg dipatahkan.

 

Penjual Atribut di jalan menuju stadion.

 

Melalui celah sempit gerbang yg dirantai, pd hal gerbang utama terbuka lebar.

 

 

Comments (2)

BROMO……DIKAU SELALU MEMUKAU…..KEREN BANGET……!

Comments

« Previous entries